SIAPA YANG MENCIPTAKAN LANGIT DAN BUMI ?

SIAPA YANG MENCIPTAKAN LANGIT DAN BUMI ?

Dalam majelis-majelis ta’lim, banyak kita menemui ada pertanyaan seorang santri kepada ustadz dan ustadzah perihal Siapakah yang menciptakan alam semesta. untuk memberikan keterangan tentang jawaban yang betul menurut al Qurán kita bisa baca Surat Luqman/31: 25 dan Surat al ankabut/29: 61-63.

1. Siapakah yang menciptakan langit dan bumi ?
al Qurán memberikan jawaban. Katakanlah: “Segala puji bagi Allah” = ALHAMDULILLAH

Surat Luqman/31:25:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

2. Siapakah yang menjadikan langit dan bumi ?
– Siapakah yang menundukkan matahari dan bulan ?
– Siapakah yang menurunkan air dari langit ?
– Siapakah yang menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya ?

al Qurán memberikan jawaban. Katakanlah: “segala puji bagi Allah”= ALHAMDULILLAH
Surat Al-‘Ankabut/29, ayat 61-63:

{وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ (61) اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (62) وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ نزلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ (63) }
Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab, “Allah, ” maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar). Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki­nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menurunkan air dari langit, lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab, “Allah.” Katakanlah, “Segala puji bagi Allah, ” tetapi kebanyakan mereka tidak memahaminya).

Dari kedua surat tersebut, memberikan jawaban kepada kita bahwa yang menciptakan, yang menjadikan langit dan bumi, yang menundukkan matahari dan bulan, yang menurunkan air dari langit, yang menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya adalah ALHAMDULILLAH.

ALHAMDU, segala puji. Segala puji itu milik si Puji. Siapa si Puji itu ?. si Puji itu yang bagi Allah adalah Rasulillah. Rasulillah Muhammad SAW. Sebelum ada material nama Ahmad SAW dan setelah ada material nama Muhammad SAW, Beliau sebagai Rasulullah atau Utusan Allah SwT. Beliaulah yang Segala Puji, Rabbil álamin. Ar Rohman Ar Rohim, Maliki Yaumiddin, Iyyaka na’budu wa iyyaka nastaín. Beliaulah yang menjadi Rabbin-Nas, Malikin-Nas, Ilahin-Nas.

Dalam Hadits Qudsi diterangkan:

Lau la ka Lau la ka ma khalaqtu asya-a
“kalau bukan karena Engkau Muhammad kalau bukan karena Engkau Muhammad, Aku (ALLAH) tidak akan menciptakan segala sesuatu”

Segala sesuatu Allah ciptakan, karena Allah ciptakan makhluq yang paling utama, yang sebaik-baik makhluk tidak ada yang lain yaitu Nur Nabi Muhammad SAW, yang Nur itu berasal daripada Allah SwT. Dari sebab ada Nur Nabi Muhammad SAW itu kemudian Allah SwT ciptakan segala sesuatu yang lain; surga, neraka, langit, bumi dan semua isinya. Subhanallah… Begitu Agung dan Mulianya kedudukan Nur Nabi Muhammad SAW.

Maka sudah sepatutnya, bagi ummat Nabi Muhammad SAW selalu bersholawat / berhubungan dengan Nur Nabi Muhammad SAW. Oleh karena, apapun kedudukan kita Nur atau Ruh yang ada di dalam qolbu kita itupun berasal dari Nur Nabi Muhammad SAW. sebagaimana diterangkan dalam Hadits Qudsi: Ana minallah wal mu’minu minnii, Aku daripada Allah dan mu’min dariku.

Mengapa kita harus berhubungan dengan Nur Nabi Muhammad SAW,yang Nur itu Nur ‘ala Nur (cahaya di atas cahaya), karena tanpa Nur Nabi, kita tidak pernah ada. dan apapun kedudukan kita tidak akan menjadi mulia, kalau kita tidak memuuliakan Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW secara fisik sudah wafat, dikubur di Madinah, tetapi secara Ruh (non fisik), Ruh masih hidup, dan ada di Baitullah selalu bersama dengan Allah SwT, karena Rasulullah adalah utusan Allah, karena utusan Allah maka tidak pernah pisah dengan Allah. Maka siapapun yang memiliki ingin berjumpa dengan Allah SwT harus melalui utusan-Nya yang selalu bersama dengan Allah SWT. Kalau kita sudah bersama dengan Rasulullah SAW maka kita akan disertai Allah SwT. dan kalau kita sudah bersama dengan Rasulullah maka apa yang kita hajatkan/ butuhkan akan dikabulkan Allah SwT.

Allahumma Shalli ála Sayyidina Muhammad wa ála Ali Sayyidina Muhammad.
Wallahu a’lam bish-showwab.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *