Tujuh Lapis untuk mencapai Kebenaran ?

Tujuh Lapis untuk mencapai Kebenaran ?

Banyak orang dalam menilai kebenaran tidak sampai finish. untuk mencapai finish maka diperlukan usaha yang lebih mendalam. kalau sudah tidak lagi bisa diberikan penjelasan, insya Allah di situlah makna kebenaran yang sebenarnya. contoh dalam realita dalam kita ingin menilai sebuah kebenaran misalnya ungkapan dibawah ini :
1. Saya makan ayam
2. Saya makan ayam mati
3. Saya makan ayam mati yang di sembelih
4. Saya makan ayam mati yang di sembelih dengan menyebut asma Allah
5. Saya makan ayam mati yang di sembelih dengan menyebut asma Allah dengan tidak berlebih-lebihan
6. Saya makan ayam mati yang di sembelih dengan menyebut asma Allah dengan tidak berlebih-lebihan di bulan Romadhon
7. Saya makan ayam mati yang di sembelih dengan menyebut asma Allah dengan tidak berlebih-lebihan di bulan Romadhon di waktu malam hari.
Kalau makannya di siang hari maka jadi tidak boleh, karena sedang puasa …
Dari kalimat tersebut di atas, maka supaya kita tidak salah dalam menilai sesuatu diperlukan penjelasan supaya yang kita lakukan dapat benar bahkan tidak hanya benar tapi bisa betul ?
apa bedanya benar dan betul ?
kalau benar itu kurang pas tapi kalau pas baru dikatakan betul
contoh kita menghadap ke arah barat tegak lurus 90 derajat tapi kita menghadapnya baru 87 derajat ini namanya benar di katakan betul kalau kita menghadapnya sama 90 derajat.

wallahu a’lam bishowwab


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *